Sistem Kebudayaan Suku Batak Indonesia

Sistem Kebudayaan Suku Batak Indonesia – Batak adalah nama sebuah suku di Indonesia. Suku ini kebanyakan bermukim di Sumatra Utara. Mayoritas orang Batak beragama Kristen dan Islam. Tetapi dan ada pula yang menganut kepercayaan animisme (disebut Parmalim). Yang dimaksud dengan kebudayaan Batak yaitu seluruh nilai-nilai kehidupan suku bangsa Batak di waktu-waktu mendatang merupakan penerusan dari nilai kehidupan lampau dan menjadi faktor penentu sebagai identitasnya.

Sistem Kebudayaan Suku Batak Indonesia

Suku Batak/analisadaily.com

Refleksi dari nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi suatu ciri yang khas bagi suku bangsa Batak yakni keyakinan dan kepercayaan bahwa ada Maha Pencipta sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta segala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi. Untuk mewujudkan keseimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai mahluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, Tuhan Maha Pencipta sebagai titik orientasi spritualnya, alam lingkungan sebagai objek integritasnya suku bangsa Batak.

1. Bahasa

Bahasa sangat penting artinya bagi suatu kelompok masyarakat, baik modern ataupun pra-modern. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi antar manusia, tetapi juga sebagai perekat persatuan antarwarga suatu komunitas dan simbol identitas bahasa yang membanggakan bagi pemiliknya. Demikian halnya dengan masyarakat Batak, menggunakan bahasa Batak dalam berinteraksi sosial yang menjadi ciri khas budaya mereka. Bahasa khas yang sering diucapkan oleh orang-orang Batak adalah horas. Horas adalah kata salam masyarakat Batak yang berasal dari daerah Sumatera Utara, khususnya “Tapanuli”, yang selalu diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain kata horas salam khas yang lain, yaitu mejuah-juah dari daerah Karo, njuah-juah dari daerah Dairi, yahobu dari daerah Nias. Bahasa adalah sarana komunikasi untuk menerima informasi dan menginformasikan sesuatu kepada orang lain dengan lisan atau tulisan. Bahasa Batak adalah bahasa yang dipergunakan masyarakat Batak sebagai bahasa sehari-hari baik dalam upacara-upacara adat maupun keagamaan.

2. Sistem Pengetahuan

Sistem pengetahuan masyarakat Batak tampak pada perubahan-perubahan musim yang diakibatkan oleh siklus alam, misalnya musim hujan dan musim kemarau. Perubahan dua jenis musim tersebut dipelajari masyarakat Batak sebagai pengetahuan untuk keperluan bercocok tanam. Selain pengetahuan tentang perubahan musim, masyarakat suku Batak juga menguasai konsep pengetahuan yang berkaitan dengan jenis tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Pengetahuan tersebut sangat penting artinya dalam membantu memudahkan hidup mereka sehari-hari, seperti makan, minum, tidur, pengobatan, dan sebagainya.

3. Organisasi Sosial

a) Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan orang Batak adalah patrilineal, yaitu menurut garis keturunan ayah. Dalam berhubungan antara yang satu dengan yang lain pada masyarakat Batak, mereka harus mampu menempatkan dirinya dalam struktur itu sehingga mereka selalu dapat mencari kemungkinan hubungan kekerabatan di antara sesamanya dengan cara martutur. Hubungan antara satu marga dengan marga lainnya sangat erat, setelah terjadinya beberapa kelompok kecil yang diakibatkan sebuah perkawinan.

b) Tarombo/Silsilah

Tarombo atau silsilah adalah marga dalam masyarakat Batak. Tarombo adalah daftar asal-usul suatu keluarg). Dalam hal ini, hampir semua marga Batak telah mempunyai tarombo secara tertulis, di dalamnya tercatat semua keturunan marga yang bersangkutan. Kalaupun belum ada tarombo tertulis, setidaknya semua keluarga dapat mengetahui nama nenek moyangnya turun temurun, kepada dirinya sendiri. Orang Batak menggunakan kata marga untuk menunjukkan, baik satuan-satuan yang lebih kecil maupun yang lebih besar, juga kelompok-kelompok yang paling besar.

Sistem marga sebagai warisan leluhur dipupuk untuk menentukan identitas pribadi atau pun golongan dan sistem ini sejalan dengan silsilah yang dipertahankan secara terus-menerus. Suatu hal yang lumrah bilamana seorang Batak tidak mengetahui silsilahnya atau hilang marganya, sebab disengaja atau tidak, maka orang itu disebut lilu (kesasar). Kemudian muncullah istilah Batak kesasar. Setiap orang Batak tidak akan senang disebut Batak kesasar. Untuk menghindari timbulnya istilah seperti itu di tengah-tengah masyarakat, maka setiap orang harus mengetahui sejarah leluhur yang mewariskan marga, sesuai dengan jenjang silsilah yang turun-temurun.

4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

Sistem peralatan hidup dan teknologi masyarakat Batak. Sistem teknologi itu sendiri dapat diartikan sebagai segala tindakan serta cara manusia membuat, memakai, dan memelihara seluruh peralatannya selama hidupnya. Cakupan unsur-unsur sistem teknologi meliputi berbagai macam peralatan seperti alat-alat produksi, senjata, makanan, minuman jamu atau obat-obatan, pakaian, perhiasan, rumah dan sebagainya. Masyarakat Batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana yang dipergunakan untuk bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo), tongkat tunggal (engkol dalam bahasa Karo), sabit (sabi-sabi) atau ani-ani. Masyarakat Batak juga memiliki senjata tradisional yaitu, piso surit (sejenis belati), piso gajah dompak (sebilah keris yang panjang), hujur (sejenis tombak), podang (sejenis pedang panjang). Unsur teknologi lainnya yaitu kain ulos yang merupakan kain tenunan yang mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan adat Batak.

5. Pakaian dan Perhiasan

Sistem teknologi terdapat dalam sastra lisan walaupun tidak terlalu menonjol. sistem teknologi pada zaman dulu sudah ada, misalnya pakaian yang sudah berwarna. Pakaian dalam arti seluas-luasnya juga merupakan suatu benda kebudayaan yang sangat penting bagi untuk semua suku bangsa di dunia. Bahan mentah pakaian dapat dikelaskan ke dalam : pakaian dari bahan tenun, pakaian dari kulit pohon dan pakaian dari kulit binatang dan lain-lain. Asesoris bagi kaum perempuan Batak, benda perhiasan seperti kalung, anting, gelang adalah symbol identitas budaya masyarakat Batak, di samping difungsikan sebagai benda untuk memepercantik kaum perempuan. Dalam bidang teknologi tradisional masyarakat Batak lainnya dalam benda budaya yang berupa pakaian tenun, meskipun produk itu masih sederhana.

6. Rumah

Teknologi pembuatan rumah sebagai suatu karya kebendaan masyarakat Batak terlihat dari desain rumah yang memiliki kolong dan bertangga. Rumah disebut juga jabu atau bagas. Rumah orang Batak melukiskan alam kosmos. Rumah bagian pertama disebut bara, tombara (kolong) rumah. Gunanya untuk kandang ternak, kerbau atau sapi. Ternak itu adalah sahabat manusia yang turut membantu usaha pertanian. Oleh sebab itu, mereka juga harus dilindungi.

7. Sistem Mata Pencaharian

Mata pencaharian utama masyarakat Batak pada umumnya ialah bertani, bersawah, berladang, berkebun, dan beternak. Sebagian mengkhususkan diri dalam mata pencaharian berjualan, bertukang, kerajinan tangan, pegawai atau buruh harian di sawah, dan sebagainya. Juga selain sebagai pemahat patung, sumber mata pencaharian lain mereka adalah berdagang.

8. Sistem Kepercayaan atau Religi

Sistem kepercayaan atau sistem religi sebagai suatu aspek social masyarakat Batak merupakan hal yang paling menonjol. Sempat di Batak menganut animisme (tidak mengenal Tuhan melainkan percaya dan memuja roh-roh halus). Namun, di sisi lain mereka juga mengenal “Tuhan” dalam konsep Mula Jadi Na Bolon ( Sang Pencipta Yang Agung) agama asli suku Batak. Jadi, sistem kepercayaan lama Batak itu, sebenarnya adalah Dinamisme, dua keyakinan sekaligus, yakni konsep Dewata dan Konsep Mula Jadi Na Bolon. Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan. Agama kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebaranya meliputi batak utara. Walaupun demikian banyak sekali masyarakat batak didaerah pedesaan yang masih mmpertahankan konsep asli religi penduduk batak. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya .

9. Kesenian

Seni pada masyarakat Batak umumnya meliputi, seni sastra, seni musik, seni tari, seni bangunan, seni patung, dan seni kerajinan tangan. Terdapat beberapa seni masyarakat Batak, antara lain :

  • Margondang – Upacara margondang diadakan untuk menyambut kelahiran anak mereka dan sekaligus mengumumkan kepada warga kampung bahwa dia sudah mempunyai anak. Margondang merupakan suatu kebiasaan masyarakat Batak yang dilakukan dalam suatu upacara tertentu. Tujuan filosofinya adalah untuk mengukuhkan muatan religi acara tersebut karena merupakan kebiasaan yang diwarisi dari leluhur.
  • Manortor – Tortor adalah tarian Batak yang selalu diiringi dengan gondang (gendang). Tortor pada dasarnya adalah ibadat keagamaan dan bersifat sakral,bukan semata-mata seni.
  • Seni Patung – Di daerah Batak peninggalan-peninggalan kebudayaan megalitik sampai saat ini masih banyak dijumpai, misalnya batu berdiri (menhir) dan batu-batu yang disusun berupa mejan batu (dolmen) terletak dekat batu-batu kecil ( kursi) yang dipakai sebagai tempat pertemuan seperti di Ambarita (Samosir), dan Sarcophagusatau keranda (bentuknya seperti lesung atau palung bertutup). Kursi batu menurut kepercayaan orang / masyarakat, pada waktu itu adalah tempat para arwah leluhur mereka, sebab ada penghormatan kepada leluhur, oleh sebab itu mereka berhak duduk pada kursi-kursi tersebut. Sarcophagus18 atau keranda yang dibuat dari batu besar bagian tengahnya ditata untuk tempat penguburan tulangtulang manusia yang berasal dari kebudayaan megalitik muda, yang masih banyak dijumpai di tanah Batak.