Sejarah Benteng Portugis Jepara

Sejarah Benteng Portugis Jepara – Pembangunan Benteng Portugis tidak bisa lepas dari permasalahan antara kerajaan Mataram dan VOC. Kerajaan Mataram berambisi mengalahkan VOC dengan meminta bantuan kepada Portugis yang mana pada saat itu Portugis juga merupakan musuh dari Belanda. Pada tahun 1619, Jakarta yang dahulu bernama Jayakarta atau Sunda Kelapa dikuasai oleh VOC. Jayakarta merupakan daerah strategis untuk perdagangan, oleh karena itu Mataram ingin merebutnya kembali dari tangan VOC.

Benteng Portugis Jepara

Benteng Portugis Jepara/Wikipedia.org

Pada saat itu Mataram dipimpin oleh Sultan Agung yang merasa bahwa dikuasainya Jayakarta akan mengancam eksistensi Mataram di pulau Jawa. Perang VOC berlangsung selama dua tahun yaitu dari tahun 1628 sampai tahun 1629, namun pada perang tersebut Mataram mengalami kekalahan. Kekalahan Mataram diderita ketika serangan yang ada di darat dapat dengan mudah dilumpuhkan, oleh karena hal tersebut Sultan Agung berfikir untuk mengembangkan serangan laut. Namun permasalahannya kerajaan Mataram bukan kerajaan yang mempunyai armada laut yang kuat. Kemudian raja Mataram tersebut bekerjasama dengan Portugis untuk berperang serta mempertahankan wilayah Mataram. Oleh karena sebab inilah Benteng Portugis dibangun.

Benteng Portugis di Jepara di diami hanya sebentar oleh Portugis. Hal ini dikarenakan adanya dua versi cerita yang menyebabkan Portugis meninggalkan Benteng Portugis. Salah satu cerita adalah banyaknya korban yang berjatuhan hingga hilangnya orang – orang secara misterius di benteng ini. Konon di pulau Mandalika terdapat sebuah pusaran air yang dipercaya tempat tersebut adalah gerbang dari Keraton Luweng Siluman yang yang dirajai buaya putih. Konon siapapun orang yang berkulit putih berada di sekitar area tersebut maka akan hilang tertelan ke pusaran tersebut. Mitos inilah yang menyebabkan orang Portugis dipercaya meninggalkan benteng tersebut. Yang kedua adalah berpindahnya pola perdagangan dari jalur laut ke jalur darat. Dahulu tepatnya pada perpindahan kerajaan Demak ke Pajang perdagangan yang semula di pusatkan di laut dikemudian hari mulai sepi dan berpindah ke darat.

Ketika masa pendudukan Jepang, Benteng Portugis ini dipergunakan kembali untuk dijadikan pos pengintaian laut. Jepang mempekerjakan penduduk setempat sebagai romusha untuk membangun, membersihkan sampai menata ulang Benteng Portugis ini hingga ke fungsi semula.