Sejarah Peradaban Yunani Kuno Lengkap

Sejarah Peradaban Yunani Kuno – Yunani Kuno adalah peradaban dalam sejarah Yunani yang dimulai dari periode Yunani Arkais pada abad ke-8 sampai ke-6 SM, hingga berakhirnya Zaman Kuno dan dimulainya Abad Pertengahan Awal. Perabadan ini mencapai puncaknya pada periode Yunani Klasik, yang mulai berkembang pada abad ke-5 sampai ke-4 SM. Pada periode klasik ini Yunani dipimpin oleh negara kota Athena dan berhasil menghalau serangan Kekaisaran Persia. Masa keemasan Athena berakhir dengan takluknya Athena kepada Sparta dalam Perang Peloponnesos pada tahun 404 SM. Seiring penaklukan oleh Alexander Agung, kebudayaan Yunani, yang dikenal sebagai peradaban Hellenistik, berkembang mulai dari Asia Tengah sampai ujung barat Laut Tengah.

Sejarah Peradaban Yunani Kuno

Bangunan Yunani Kuno

Sejarah Peradaban Yunani Kuno

Istilah ‘Yunani Kuno’ diterapkan pada wilayah yang menggunakan bahasa Yunani pada Zaman Kuno. Wilayahnya tidak hanya terbatas pada Semenanjung Yunani modern, tapi juga termasuk wilayah lain yang didiami orang-orang Yunani.

Letak Geografis Dan Kondisi Alam Yunani Kuno

Yunani Kuno terletak disekitar Laut Tengah yang sangat strategis dalam pelayaran. Yunani Kuno terletak di ujung tenggara di benua Eropa atau ujung selatan Semenanjung Balkan. Cakupan wilayahnya meliputi seluruh wilayah Yunani daratan, Siprus, Kepulauan Aegia serta sebagian wilayah Asia Kecil. Di sebelah utara berbatasan dengan Yugoslavia, Bulgaria, Macedonia dan Turki. Tanahnya bergunung-gunung tidak subur, pantainya berupa teluk-teluk yang menjorok jauh ke daratan sehingga cocok untuk pelabuhan. Di sebelah timur berbatasan dengan Laut Aegea yang terdiri atas ratusan pulau kecil yang berhubungan dengan pantai Asia Barat seperti Turki. Kepulauan ini berfungsi sebagai jembatan alam. Sedangkan di bagian barat berbatasan dengan Laut Ionia dan bagian selatan dengan Laut Tengah. Iklimnya subtropis dengan musim panas yang lama dan kering. Sedangkan musim dinginnya sejuk, singkat, dan banyak hujan.

Selain dikelilingi laut, di wilayah Yunani terdapat pegunungan kapur dengan lembah-lembah yang terjal. Sebagian besar wilayah Yunani bergunung-gunung sehingga antar wilayah terpisah antar satu sama lain. Tiga puluh prosen daerahnya berupa daratan rendah yang terdapat di dekat laut dan terbentuk oleh endapan lumpur sungai. Daerah lereng pegunungan menghasilkan anggur, sedangkan di lembah-lembah yang rendah menghasilkan gandum.

Kondisi wilayah Yunani yang bergunung-gunung dengan tanah yang tidak subur menghambat hubungan antara satu kelompok masyarakat dan kelompok masyarakat lainnya. Pemukiman-pemukiman yang terpisah-pisah ini lambat laun menjadi negara yang merdeka dan berdiri sendiri, atau yang lebih populer disebut polis.

Awal Peradaban Yunani Kuno

Peradaban Yunani berkembang dari peradaban Kreta (Minoa) dan Peradaban Mikenai. Peradaban Kreta atau Minoa berkembang di pulau Kreta antara tahun 3000 – 1450 SM. Di pulau terbesar di wilayah Yunani bagian selatan ini berkembang banyak kota dan pelabuhan dagang karena kemajuan aktifitas perdagangan, yang berimbas pada dibangunnya istana istana indah dan megah.

Pulau Kreta sendiri telah dihuni, manusia sejak 7000 SM. Penduduknya datang dari Anatolia atau Asia Kecil, namun ada juga yang mengatakan jika penduduknya datang dari wilayah Levant, yaitu wilayah Mediterania Timur yang sekarang meliputi Lebanon, Suriah, Yordania, Israel dan Palestina. Pada saat itu mereka telah mengenal tulisan, yang disebut tulisan Minos. Bangsa Minoa mengikuti agama yang dianut sejak zaman Neolitikum, yaitu politeisme. Mereka memuja banyak dewa-dewi, dengan dewi utama Potnia.

Kebudayaan Kreta (Minoa) dikembangkan atas dasar kekuatan maritim. Penduduknya menghuni desa-desa terbuka; kawasan pesisir pantai dihuni nelayan, sementara dataran Mesara yang subur dimanfaatkan untuk pertanian. Hasil pangan di Minoa sangat bervariasi; seperti, gandum, anggur, zaitun, dan ara. Mereka juga berternak domba, kambing dan babi, serta menggunakan keledai dan lembu sebagai alat bajak. Lebah juga diternakkan untuk menghasilkan madu.

Kebudayaan Kreta memiliki nilai tinggi, banyak peninggalan di Minoa yang menunjukkan jika bangsa ini sangat maju. Bangsa Minoa merupakan perintis awal dalam hal arsitektur. Kota-kota mereka dilengkapi dengan jalan-jalan yang telah diaspal, selokan, serta saluran air. Mereka juga sudah mampu membuat istana sebagai pusat pemerintahan.

Peradaban Kreta mengalami titik balik akibat bencana alam pada tahun 1450 SM. Peradaban ini lalu berkembang menjadi peradaban baru yang disebut dengan Peradaban Mikenai. Bangsa Mikenai berkembang melalui penaklukan harta dan rampasan perang. Belajar dari penaklukan terhadap bangsa-bangsa lain, orang-orang menekan pentingnya membangun benteng pertahanan yang kuat. Dinding benteng mereka biasanya memiliki tinggi 12 sampai 15 meter yang disusun tanpa alat perekat.

Seni Mikenai dipengaruhi oleh seni bangsa Minoa. Seni Mikenai umumnya berupa tembikar, patung dan lukisan. Bangsa Mikenai juga memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal membuat barang-barang dari perunggu, misalnya pedang, perisai dan baju pelindung.

Peradaban Mikenai runtuh sekitar tahun 1100 SM akibat invasi bangsa Doria, salah satu suku bangsa besar yang membentuk peradaban Yunani Kuno. Sumber lain mengatakan kehancuran itu disebabkan oleh salah satu hal dari hal berikut:

  • bencana alam dalam bentuk letusan dahsyat gunung merapi
  • bencana kekeringan
  • serbuan orang laut yang bermukim dan menguasai Laut Aegea

Setelah jatuhnya Peradaban Mikenai, tulisan menghilang, istilah Zaman Kegelapan mengacu kepada minimnya catatan sejarah, bukan minimnya pencapaian. Tidak ada sumber-sumber tertulis yang dapat mengungkap kehidupan pada saat itu, karena selama Zaman Kegelapan berlangsung, kegiatan penulisan tidak menjadi perhatian penting.

Peradaban Mikenai tidak saja menggantikan Kreta tetapi berkembang ke Yunani daratan dan sekitarnya, sekitar tahun 1600 – 1100 SM. Meski periode panjang antara peradaban Mikenai dan peradaban Yunani tidak banyak dikenal, dan karena itu sering disebut periode kegelapan Yunani, sulit dipungkiri bahwa peradaban Yunani sendiri tidak terlepas dari pengaruh dua peradaban yang berkembang sebelumnya yakni Kreta dan Mikenai.

Kondisi Sosial-Politik Peradaban Yunani Kuno

1. Periode Arkais (800 – 500 Sm)

Peradaban Yunani yang dikembangkan sejak periode Arkais itulah yang disebut dengan Peradaban Yunani Kuno. Dimulai abad ke-8 SM, ketika Yunani mulai bangkit dari Zaman Kegelapan yang ditandai dengan runtuhnya peradaban Mikenai. Pada periode Arkais, mulai muncul benih-benih awal yang nantinya akan berkembang pesat pada periode Yunani Klasik. Periode ini ditandai dengan adanya negara kota (polis), koloni Yunani, filsafat klasik, teater dan sajak tertulis.

Peradaban baca-tulis telah musnah dan aksara Mikenai telah dilupakan, akan tetapi bangsa Yunani mengadopsi alfabet Punisia, memodifikasinya dan menciptakan alfabet Yunani. Sekitar abad ke-9 SM catatan tertulis mulai muncul. Tidak ada penguasa dominan sebagaimana terjadi pada periode kemudian. Tiap suku bangsa, komunitas, atau wilayah membentuk kelompok-kelompok kecil yang independen. Sesuai kondisi geografisnya yang bergunung-gunung, berbukit-bukit serta berpulau-pulau, kelompok-kelompok kecil itu hidup terpisah-pisah serta mengembangkan peradaban mereka sendiri. Meningkatnya hubungan sosial dan perdagangan antar komunitas lama-kelamaan melahirkan kebutuhan untuk membentuk serta mengelola kehidupan bersama yang lebih baik. Akibatnya, lahirlah organisasi pemerintahan yang sederhana dan pembagian kerja. Hal tersebutlah yang kelak berkembang menjadi negara kota atau polis.

Negara kota atau polis berkembang sekitar abad ke-7 SM. Sebuah polis dapat dihuni oleh seribu sampai puluhan ribu warga dengan sistem pemerintahan yang jauh lebih tertata dengan orang kaya dan berpengaruh sebagai pemegang kekuasaan di setiap polis-nya. Sejak abad ke-6 SM, polis merupakan kekuatan yang dominan. Masing-masing mengembangkan polis-nya dengan menaklukan desa-desa kecil yang ada disekitarnya. Tiap-tiap polis memiliki ciri khasnya masing-masing. Seperti Sparta yang berfokus pada pembangunan kekuatan militer dan Athena yang berfokus pada pertanian, maritim, dan perdagangan.

Populasi yang bertambah dan kurangnya lahan nampaknya telah memicu perselisihan internal antara kaum kaya dan kaum miskin dibanyak polis. Di Sparta, Perang Messenia terjadi dan akibatnya Messenia ditaklukan dan penduduknya dijadikan budak. Penduduk yang diperbudak kemudian disebut helot, dipaksa untuk bertani dan bekerja untuk rakyat Sparta. Sementara itu, Lykurgos, pemimpin Sparta mewajibkan setiap pemuda untuk menjadi prajurit dan masuk kedalam Pasukan Sparta. Hal tersebut yang menjadikan Sparta negara yang kuat secara militer. Bahkan orang-orang kaya juga harus hidup dan berlatih sebagai prajurit seperti halnya kaum miskin. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya konflik sosial antara kaum kaya dan miskin.

Sementara itu, Athena tumbuh menjadi polis yang makmur dan kuat secara ekonomi dengan pertanian dan perdagangan menjadi aktivitas utama. Tetapi, pada akhir abad ke-7 SM, Athena mengalami krisis tanah dan pertanian yang memicu perang saudara. Arkhon Drako sempat membuat beberapa perubahan mendasar terhadap kode hukum Athena pada 621 SM, namun gagal meredakan konflik. Pada akhirnya reformasi yang membuat Athena menjadi negara yang cukup stabil terjadi berkat Solon pada tahun 594 SM yang memperbanyak tanah untuk orang miskin namun tetap menempatkan kaum aristokrat sebagai pemegang kekuasaan.

Pada paruh kedua abad ke-6 SM, Athena jatuh dalam cengkraman tirani Peisistratos dan putranya Hippias dan Hipparkhos. Akan tetapi pada tahun 510 SM, Raja Sparta Kleomenes I membantu rakyat Athena menggulingkan sang tiran. Setelah itu Sparta dan Athena berulang kali saling serang, yang berujung diangkatnya Isagoras yang pro-Sparta menjadi arkhon Athena. Tokoh non aristokrat, Kleisthenes tidak ingin Athena menjadi negara boneka Sparta, sehingga ia, menggalang dukungan rakyat untuk menjatuhkan Isagoras dengan komitmen bahwa setelah menjadi tiran ia akan menetapkan hak dan politik yang sama bagi seluruh warga Athena tanpa memandang status. Dengan demikian Athena pun menjadi negara kota yang pertama di dunia yang mengenal bentuk pemerintahan yang sangat penting, yaitu demokrasi.

2. Periode Yunani Klasik (500 – 300 Sm)

Periode Yunani Klasik ditandai dengan tiga peristiwa penting, yaitu Perang Yunani – Persia, Perang Sparta – Athena yang disebut Perang Peloponnesia, dan bangkitnya negara kota Macedonia dibawah Philippos II. Setelah pada tahun 510 SM, Kleisthenes menciptakan bentuk pemerintahan yang disebut demokrasi, sama seperti aristokrat lainnya Kleisthenes juga ingin memperoleh lebih banyak kekuasaan. Namun karena sistem tiran tidak terlalu populer di Athena, Kleisthenes pun memutuskan untuk member i lebih banyak kuasa kepada rakyat miskin.

Pada 490 SM, Persia menyerang Athena. Orang-orang merasa bahwa Persia memiliki tentara yang hebat. Beberapa orang berpendapat bahwa Athena harus kembali menerapkan sistem pemeritahan lamanya yang dipimpin oleh seorang aristokrat jika demokrasi tak bekerja dengan baik. Mereka mengatakan bahwa demokrasi membuat pengambilan keputusan berjalan lambat. Rakyat Athena mengira jika mereka akan kalah menghadapi Persia. Namun pasukan Athena memiliki dinding perisai yang lebih unggul dari pada pasukan Persia. Akhirnya pasukan Athena pun menang.

Pada 480 SM, Xerxes I memimpin Persia menyerang Athena kembali. Sadar akan kekuatan Persia, dua negara kota yang semula bersaing, Sparta dan Athena membangun sebuah persekutuan. Gabungan kekuatan Sparta-Athena, dengan Athena mengerahkan kekuatan maritimnya dan Sparta kekuatan infantrinya membuat Persia takluk dalam Pertempuran Plataia ini.
Athena berhasil meyakinkan kota-kota Yunani lainnya untuk mempertahankan angkatan laut yang kuat untuk berjaga-jaga seandainya Persia menyerang kembali, kecuali Sparta yang menolak. Athena lalu menyatakan bahwa, jika mereka tak sanggup mengirimkan kapal atau tentara, maka mereka boleh menggantinya dengan mengirimkan uang kepada Athena sehingga Athena dapat membuat kapal. Karena hal tersebut, Athena pun memperoleh banyak uang.

Akan tetapi, Persia tidak menyerang lagi dalam waktu yang lama sehingga sejumlah kota ingin berhenti mengirimkan uang kepada Athena. Tetapi Athena memanfaatkan angkatan lautnya untuk memaksa kota-kota itu untuk terus mengirimkan uang kepada Athena. Athena juga menggunakan uang yang mereka peroleh untuk membangun kota mereka, sehingga rakyat Athena tak harus lagi membayar pajak.

Tindakan Athena membuat kota lainnya di Yunani marah, sehingga mereka meminta Sparta untuk menghentikan Athena. Disinilah Perang Peloponnesia dimulai. Perang ini terjadi sejak 431 SM hingga 404 SM. Pada akhirnya, dengan bantuan Persia, Sparta berhasil menang dan mengalahkan Athena. Meskipun demikian, kehancuran akibat perang ini menimpa seluruh Yunani sekaligus mengakhiri periode Yunani Klasik.

Pada abad ke-3, Yunani berada dibawah kekuasaan Sparta. Namun, Sparta memiliki banyak kelemahan sehingga kekuasaannya di Yunani tidak bertahan lama. Negara-negara kota taklukan Sparta tidak rela terus berada dibawah kekuasaannya. Athena, Argos, Thebe dan Korinthos bersama-sama memerangi Sparta dalam Perang Korinthos yang berlangsung sejak tahun 395 SM hingga tahun 387 SM. Tetapi, perang ini berakhir begitu saja.
Sparta mengalami kekalahan ketika melawan negara kota Thebe dalam Pertempuran Leuktra pada tahun 371 SM. Pada saat yang bersamaan, negara kota Macedonia tumbuh dan berkembang pesat dibawah Philippos II. Macedonia mengalahkan tentara gabungan Athena-Thebe dalam Pertempuran Khaironeia pada tahun 338 SM. Philippos II pun memaksa negara kota Yunani untuk bergabung dengan Liga Korinthos dan bersekutu dengannya, serta mencegah mereka saling menyerang.

Philippos II terbunuh saat menyerang Kekaisaran Achaemenid di Persia. Putranya yang bernama Alexander Agung pun melanjutkan perang dan berhasil menghancurkan Kekaisaran Achaemenid sepenuhnya. Ketika Alexander wafat pada tahun 323 SM, kekuasaan dan pengaruh Yunani berada pada puncaknya. Terjadi perubahan politik, sosial, dan budaya yang mendasar. Yunani semakin menjauh dari negara kota dan lebih berkembang menjadi Kebudayaan Hellenistik.

3. Periode Yunani Hellenistik (323 – 146 Sm)

Selama periode Hellenistik, peran peradaban Yunani tidak terlampau berkembang karena Alexander Agung melakukan percampuran atau perpaduan budaya, terutama antara budaya Yunani (Hellas), Mesir dan Persia. Hasil percampuran ini menghasilkan apa yang disebut Kebudayaan Hellenistik. Tujuan dari perpaduan itu adalah untuk menjaga kesetiaan serta memperkuat persatuan antara Yunani dan wilayah-wilayah yang didudukinya.

Alexander wafat pada tahun 323 SM tanpa meninggalkan anak laki-laki dewasa, sehingga kerajaannya dibagi-bagi oleh para jendralnya menjadi banyak kerajaan yang lebih kecil. Ada tiga wilayah utama hasil dari pembagian ini, yaitu Mesir yang dipimpin oleh Ptolemaios, Seleukia yang terdiri atas Israel, Suriah, Irak, Iran, dan Afganistan modern yang dipimpin oleh Seleukos, Anatolia-Thrakia yang dipimpin oleh Lysimakhos, dan Yunani-Macedonia yang dipimpin oleh Kassandros.
Periode Hellenistik berakhir setekah Yunani ditaklukan oleh Republik Romawi pada tahun 146 SM. Pada masa kekuasaan Romawi, bangsa Romawi tidak memutuskan kesinambungan sistem sosial kemasyarakatan dan budaya Yunani. Kebijakan ini tetap tidak berubah hingga munculnya agama Kristen yang menandai runtuhnya kemerdekaan politik Yunani.

Sistem Pemerintahan

Orang Yunani Kuno memiliki banyak bentuk pemerintahan, karena ada banyak negara kota di Yunani Kuno, dan masing-masing memiliki sistem pemerintahan tersendiri. Selain itu, gagasan tentang pemerintahan yang baik juga terus berubah seiring waktu.

Sebagian besar kota di Yunani pada awalnya menerapkan monarki, kemudain berganti oligarki, tirani dan demokrasi secara berturut-turut. Namun, pada tiap periode ada beberapa negara kota yang menggunakan sistem yang berbeda-beda pula, bahkan ada beberapa yang tidak pernah menerapkan tirani atau demokrasi sama sekali.

Pada periode Mikenai, semua negara kota Yunani menerapkan monarki yang dipimpin oleh seorang raja. Setelah Zaman Kegelapan berakhir, hanya sedikit negara kota Yunani yang masih memiliki raja. Salah satunya adalah Sparta, yang tidak hanya mempertahankan jabatan raja, namun juga memiliki dua raja yang berkuasa bersama-sama. Sebagian besar negara kota pada periode Arkais menerapkan sistem oligarki, yang mana pemerintahan dipimpin oleh para aristokrat. Kemudian, sekitar abad ke-5 SM banyak negara kota yang dipimpin oleh tiran.

Orang Athena memiliki dan menerapkan paham kebebasan didalam mengembangkan kemampuan di bidang filsafat, seni pahat dan juga seni teater. Dalam pemerintahan Athena ini sistem pemerintahannya dikelola oleh seorang negarawan yang bernama Solon. Solon kemudian membuat undang undang sebagai undang undang pengganti dari Draconia karena memang Draconia ini mendapatkan pertentangan dari golongan kelas bawah karena dianggap merugikan bagi kalangan mereka.

Negara kota Athena juga menciptakan pemerintahan demokrasi pertama yang membuat kekuasaan tertinggi pada saat itu berada ditangan para dewan eksekutif. Para dewan eksekutif ini juga dikenal dengan sebutan Archon. Para Archon terdiri atas sembilan orang yang dianggap sebagai orang yang mewakili rakyat. Dalam menjalankan tugasnya Archon diawasi dengan ketat oleh dewan pengawas yang dikenal dengan sebutan Aeropagos. Aeropagos juga mendapatkan wewenang sebagai ketua pengadilan.

Dengan cepat negara-negara kota Yunani lainnya meniru Athena. Bahkan negara kota yang bukan Yunani, seperti Romawi mencoba-coba sistem ini dengan cara memberikan kekuasaan kepada setiap orang miskin. Namun, demokrasi Athena tidak benar-benar memberi kekuasaan pada setiap orang. Sebagian besar orang Athena tetap tak dapat memilih, terutama perempuan, budak, anak-anak, dan orang asing. Rakyat dari negara kota yang dikuasai Athena juga tidak dapat memilih.

Selain itu juga dimunculkan ide dalam sistem pemerintahan yang dikenal dengan sistem ostracisme. Sistem ini memuat hak dari setiap warga Yunani untuk melakukan penggantian dari penguasa yang dianggap menjalankan kekukasaan mereka dengan hal yang berlebihan. Kemudian penguasa ini akan diasingkan.

Setelah Yunani ditaklukan oleh raja Philippos dari Macedonia, Yunani pun mengalami pemerintahan monarki. Secara resmi, Philippos sebenarnya hanya memimpin sebuah persekutuan negara-negara kota Yunani, sehingga negara kota di Yunani masih dapat menjalankan demokrasi dan oligarki-nya masing-masing menyangkut urusan dalam kota dengan persetujuan raja Macedonia.

Sistem pemerintahan yang ada di Yunani Kuno dengan beberapa konsep yang ada ini telah melahirkan munculnya para pemikir diberbagai bidang filsafat, hukum, tatanegara bahkan dibidang ilmu praktis seperti matematika. Hal ini dikarenakan terjaminnya hak dari setiap warga negara untuk mengeluarkan pendapatnya masing-masing.

Dan inilah yang kemudian membuat sistem pemerintahan peradaban Yunani Kuno menjadi inspirasi akan bercokolnya sistem pemerintahan demokrasi yang banyak diterapkan diberbagai negara didunia saat ini.

Sistem Kepercayaan

Sistem kepercayaan bangsa Yunani Kuno adalah politeisme. Mereka percaya pada kekuasaan para dewa, menyembah para dewa yang digambarkan sebagai manusia biasa tetapi lebih sempurna. Dewa tertinggi yaitu Zeus, dipercaya tinggal dipuncak Gunung Olimpus. Zeus dianggap dewa langit dan bumi serta bapak semua manusia. Permaisurinya bernama Hera yang merupakan dewi perkawinan.

Zeus juga didampingi oleh beberapa dewa-dewi penting lainnya seperti Apollo yang merupakan dewa penguasa matahari atau dewa penguasa ilmu pengetahuan dan pelindung kesenian yang tinggal di bukit Hellikon. Poseidon yaitu dewa penguasa laut, Hermes dewa perdagangan, Pallas Athena dewi kebijaksanaan dan filsafat, Aphrodite merupakan dewi kecantikan dan dewi cinta. Sedangkan Hades, dewa kematian yang tinggal didunia bawah, ia dijaga oleh anjingnya yang bernama Kerberos.
Selain itu, bangsa Yunani Kuno juga percaya adanya manusia setengah dewa dan juga ramalan Delphi. Delphi adalah nama sebuah kota tempat tinggal sejumlah dewa. Jika bangsa Yunani akan melakukan sesuatu yang besar, mereka datang ke Delphi terlebih dahulu untuk memperoleh ramalan.

Bangsa Yunani Kuno juga mengenal upacara pengurbanan untuk menyenangkan para dewa. Kegiatan persembahan yang mereka lakukan untuk Dewa Zeus adalah pesta olahraga yang diselenggarakan di kaki Gunung Olimpus setiap empat tahun sekali. Pesta olahraga ini juga bertujuan untuk mempersatukan polis-polis.

Hasil Kebudayaan

1. Sistem Pemerintahan

Asal-muasal demokrasi yang dipraktikkan diperadaban Barat dan kemudian menyebar keseluruh dunia saat ini adalah dari Yunani. Keunggulan demokrasi Athena adalah memberi peluang kepada warga negara untuk berpartisipasi dalam proses politik. Menurut mereka, partisipasi dan pengawasan rakyat sangat penting bagi kebaikan bersama, itulah alasan mereka mengenalkan demokrasi. Jauh sebelum para pemikir modern mengusung ide kesetaraan hak dalam politik, orang-orang Yunani Kuno telah mempraktikkannya.

2. Ilmu Pengetahuan

Yunani mempengaruhi ilmu pengetahuan Barat dalam banyak hal, dari ilmu kedokteran sampai astronomi. Ada seorang ahli geometri matematika yang bernama Thales, ia disebut-sebut sebagai orang yang berjasa dalam merevisi kalender dan juga penemu adanya sifat-sifat listrik pada batu ambar yang disebut elektron.

Selain Thales, ada Pythagoras, seorang ahli filsuf dan matematikawan Yunani. Ia mendirikan perkumpulan Pythagoras sehingga ia dikenal sebagai Bapak Bilangan. Ada juga Demokritos, seorang filsuf pra-Socrates yang menemukan bahwa semua materi tersusun atas berbagai unsur yang tidak dapat dibagi-bagi yang disebut atom.

3. Filsafat

Yunani dikenal sebagai negara tempat lahirnya para ahli filsafat yang biasa disebut filsuf. Para filsuf ini dianggap sebagai peletak dasar ilmu pengetahuan atau sains modern. Yunani memiliki filsuf terkenal seperti Plato dan Aristoteles yang melahirkan karya besar dibidang ketatanegaraan. Ada juga Hipokrates yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran yang mengajarkan bahwa cara menyembuhkan penyakit adalah dengan terlebih dahulu mengetahui sebab-sebab penyakit tersebut.

4. Seni Sastra

Bangsa Yunani menghasilkan banyak karya tulis. Karya tulis ini secara tradisional terbagi menjadi beberapa jenis.

  1. Epos, adalah puisi panjang yang menceritakan kisah kepahlawanan. Sekitar 700 SM sastrawan terkenal dari Yunani yang bernama Homerus menulis dua epos yang saling terkait, Illiad dan Odysseia yang berkaitan erat dengan kejadian sejarah yang disebut Perang Troya. Bagi bangsa Yunani, kisah Illiad dan Odysseia ini menjadi salah satu kebanggaan dan alat pemersatu bangsa Yunani.
  2. Puisi, dua contoh puisi Yunani awal adalah Theogonia dan Ergakai Hemeria karya Hesiodos yang dibuat sekitar 700 SM.
  3. Sandiwara, terbagi menjadi tragedi (kisah sedih) dan komedi (kisahlucu). Tragedi tertua ditulis oleh Aiskhylos sekitar 500 SM.
  4. Sejarah, dua sejarawan besar yang karyanya masih ada hingga saat ini adalah Herodotus dan Thukydides. Sekitar 450 SM, Herodotus menukis sejarah Perang Persia. Sedangkan Thukydides menulis sejarah Perang Peloponnesos sekitar 400 SM.
  5. Dialog dan risalah filsafat, filsafat tertulis pertama kali oleh Plato sekitar 380 SM dalam bentuk dialog. Yang kemudian Plato dan Aristoteles, muridnya menulis buku filsafat reguler yang berisi prosa bukan dialog.
  6. Pidato politik dan hukum, pidato pertama yang kini masih ada dibuat sekitar 300-an SM. Tiga penulis pidato yang paling terkenal antar lain Lysias, Isokrates, dan Demosthenes.

5. Seni Bangunan Dan Pahat

Pada awalnya seni patung atau pahat Yunani menghasilkan patung seperti patung bangsa Mesir, kemudian dikembangkan menjadi lebih hidup dengan gaya naturalis. Patung yang diistimewakan dibuat dari marmer atau perunggu.

Pada masa pemerintahan Perikles, seni bangunan Yunani berkembang pesat. Peninggalan bangunan Yunani antara lain kuil pemujaan. Dibukit Acropolis berdiri megah kuil Parthenon dan kuil Erechteum. Dibukit Olimpus dibangun kuil Altis yang disembahkan untuk Dewa Zeus. Peninggalan bangunan Yunani lainnya adalah gedung teater Epidauros.

6. Olimpiade

Olimpiade adalah peristiwa olahraga empat tahunan yang dilakukan dengan tujuan penghormatan kepada Dewa Zeus. Selain itu, peristiwa ini juga dilakukan untuk kepentingan memperkuat pasukan perang atau kemiliteran. Dengan berolahraga, diharapkan para prajurit akan tangkas dan sigap dalam bertempur. Hanya laki-laki Yunani yang berhak mengikuti pertandingan ini, pihak perempuan hanya menonton. Para atlet bertanding atas nama perorangan, bukan atas nama tim. Cabang olahraga yang dipertandingkan antara lain, pentathlon, atletik, lompat jauh, lempar cakram, gulat, tinju, pankration, jalan cepat, dan olahraga berkuda.