no comments

Bentuk-Bentuk Usaha Pembelaan Negara

Bentuk-Bentuk Usaha Pembelaan Negara – Pembelaan negara harus menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Usaha-usaha pembelaan negara yang dilakukan oleh aparat keamanan dan ketertiban (Polri) serta aparat pertahanan negara (TNI) di satu sisi dengan rakyat di pihak lain telah dilakukan bersama-sama sejak masa perjuangan kemerdekaan dulu. TNI dengan dibantu rakyat, berjuang bersama mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Rakyat juga turut membantu TNI pada masa konsolidasi organisasi TNI dan dalam menghadapi gerakan separatis di beberapa daerah pasca kemerdekaan. Puncaknya adalah ketika melakukan perlawanan yang gigih dalam menghadapi Agresi Militer Belanda I dan II periode 1945 sampai 1950-an, serta menghadapi percobaan kudeta atas Presiden Soekarno oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 dan 30 September 1965. Oleh karena itu, baik TNI maupun rakyat sama-sama sangat berjasa dalam membela negara. TNI dan rakyat menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan sehingga muncul istilah manunggal TNI-rakyat.

negara-butuh-100-juta-rakyat-buat-bela-negara-mirip-wajib-militer

Selama masa Orde Baru, TNI (waktu itu masih bernama ABRI) pun tidak segan-segan turun tangan membantu rakyat melalui Program ABRI Masuk Desa (AMD). Dengan Program AMD tersebut, para prajurit ABRI membantu masyarakat desa dalam membangun jembatan, rumah warga, dan tempat ibadah; melakukan gerakan kebersihan; membantu warga yang tertimpa musibah dan bencana alam, dan kegiatan pembangunan lainnya. Kegiatan-kegiatan perbantuan pada masyarakat tersebut terus berlangsung sampai sekarang.

Usaha-usaha pembelaan negara dapat dilakukan melalui institusi TNI ataupun dilakukan oleh rakyat secara mandiri. Model pembelaan negara melalui lembaga TNI dapat dilakukan setiap waktu karena hal itu sudah merupakan tugas/pekerjaan mereka. Setiap prajurit TNI selalu siap sedia untuk ditempatkan di mana pun termasuk di area pertempuran yang bergolak demi membela NKRI. Mereka rela berkorban meninggalkan keluarga dan orang -orang yang dicintainya bahkan nyawa sekalipun dalam kurun waktu yang tidak menentu demi tugas negara.

Sementara itu, bela negara yang dilakukan secara mandiri dapat dilakukan oleh seluruh rakyat. Wujud bela negara yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah berupa sistem Pengaman Lingkungan (Siskamling). Cara ini merupakan salah satu bentuk dari sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Hankamrata). Dengan situasi tindak kejahatan yang terus meningkat dewasa ini, program siskamling dapat efektif mencegahnya. Kerawanan sosial, seperti kemiskinan dan pengangguran, serta tingkat kebutuhanhidupyangterusmeningkat, merupakan faktor penyebab semakin meningkatnya tingkat kejahatan.

Masyarakat bersama aparat desa harus mengantisipasi kecenderungan atau gejala kejahatan seoptimal mungkin dengan cara memperketat tingkat pengamanan melalui siskamling. Pendirian pos-pos siskamling di lingkungan setempat merupakan cara yang efektif untuk mencegah tindak kriminal terutama yang dilakukan dengan cara kekerasan. Selain itu, pengamanan lingkungan dengan siskamling ini juga dapat menjadi salah satu pembelajaran penegakan/supremasi hukum di kalangan masyarakat. Hal itu dapat mencegah tindakan main hakim sendiri yang sampai sekarang masih sering terjadi.

Siskamling sebenarnya merupakan sistem pengamanan yang dibentuk oleh masyarakat, dari masyarakat, dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sendiri. Siskamling juga dapat menjadi sistem keamanan dan ketertiban alternatif untuk bela negara. Sistem ini dapat berfungsi untuk mengisi kekurangan aparat kepolisian yang jumlahnya masih terbatas untuk menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Jadi, bela negara membutuhkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.

Sumber:

Faridi, MS. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan 3 untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.