no comments

Peran Serta dalam Usaha Pembelaan Negara

Peran Serta dalam Usaha Pembelaan Negara – Dewasa ini, pada saat tindak kejahatan terus meningkat, kegiatan siskamling masyarakat tampaknya justru menurun dalam beberapa tahun terakhir ini. Mengapa demikian? Memang tidak ada alasan yang jelas mengenai hal itu. Akan tetapi, barangkali karena bersifat sukarela, masyarakat juga tidak terlalu bersemangat mengadakan kegiatan ronda malam atau siskamling. Selain itu, barangkali juga disebabkan elemen tertentu dalam masyarakat sudah bosan dengan militerisme yang diterapkan sejak zaman pemerintahan Presiden Soeharto dulu.

negara-butuh-100-juta-rakyat-buat-bela-negara-mirip-wajib-militer
Salah satu bentuk militerisme yang banyak dikritik beberapa tokoh masyarakat adalah keberadaan Kodim (Komando Distrik Militer). Citra Kodim saat itu relatif buruk karena Kodim dinilai merupakan kepanjangan tangan pemerintah. Mereka digunakan untuk memata-matai seseorang atau organisasi masyarakat yang dicurigai menentang dan berlawanan dengan sikap pemerintah. Oleh para aktivis HAM, Kodim ketika itu dinilai telah melakukan berbagai pelanggaran HAM, seperti penculikan dan penghilangan para aktivis HAM. Mereka diduga melakukan pembunuhan warga sipil di Aceh dan Timor Timur (ketika itu Timor Timur masih menjadi Provinsi Indonesia ke-27). Seiring dengan jatuhnya pemerintahan Soeharto dan masuknya Indonesia pada zaman reformasi, desakan yang menuntut pembubaran Kodim di setiap provinsi semakin kencang.

Peran serta masyarakat dalam bela negara selama ini masih relatif terbatas. Jalur formal bela negara melalui lembaga Polri dan TNI (TNIAD, TNI-AU, TNI-AL) tetap dilakukan secara berkesinambungan. Mabes Polri dan Mabes TNI sampai sekarang secara berkala menerima calon-calon perwira maupun tamtama.

Perlu diketahui bahwa bela negara merupakan bagian dari nasionalisme atau cinta Tanah Air. Di dalam ideologi Pancasila, cinta Tanah Air tercantum dalam butir-butir Pancasila sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia. Selama ini bela negara identik dengan pengabdian warga yang terpilih dalam kaitannya dengan kekuatan militer yang dimiliki suatu negara. Apabila kamu turut secara aktif dalam program Siskamling, berarti kamu telah ikut serta membela negara dan cinta pada Tanah Air.

Sudah seharusnya, jika negara kita diserang secara fisik oleh negara lain, dimata-matai, dan diintervensi, seluruh rakyat wajib turut serta membela negara. Kasus intervensi yang menimpa Irak, Af ghanistan, Palestina oleh Amerika Serikat, Israel, dan negara sekutunya harus dikutuk habis-habisan dan tidak boleh terjadi di Indonesia.

Intervensi dapat terjadi pada negara manapun di dunia ini. Terlebih lagi Amerika Serikat dewasa ini tidak memiliki lagi kekuatan pengimbang, seperti halnya dulu ketika Uni Soviet masih berdiri. Amerika serikat kini lebih banyak berperan sebagai ‘polisi dunia’ yang setiap waktu dapat menangkap dan mengadili pemimpin negara lain/rezim yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingannya tanpa melalui Mahkamah Internasional. Mereka tidak segan-segan menghancurkan negara lain dengan kekuatan militernya yang super canggih. Padahal, intervensi suatu negara terhadap negara lain jelas-jelas tidak dibenarkan. Hal itu bertentangan dengan Piagam PBB, HAM, dan Undang-Undang Dasar 1945.

Peran serta rakyat dalam bela negara harus terus-menerus dipersiapkan. Usaha itu dapat dilakukan melalui program rutin maupun program yang bersifat tentatif, yaitu hanya untuk keperluan tertentu dan bersifat sementara. Peran serta pelajar dalam bela negara juga harus ditumbuhkan sejak dini. Tindakan bela negara juga dapat dilakukan, misalnya menjaga nama baik sekolah masing-masing dan mematuhi tata tertib sekolah.

Sumber:

Faridi, MS. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan 3 untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Loading...