no comments

Valentine’s Day adalah Budaya Perusak Moral Bangsa, Kata Sosiolog

seks-saat-valentine

Sebentar lagi Hari Valentine 14 Februari dirayakan sebagian kecil orang di dunia. Di negara barat, hari tersebut sering dimanfaatkan untuk menyampaikan rasa cinta mereka kepada kekasih. Namun lebih parah dari itu, terjadi pergeseran cara merayakannya yang saat ini lebih merujuk pada pengungkapan cinta lewat seks bebas. Bukan hanya di negara barat, di Indonesia sendiri budaya permisif seks bebas juga sering disalurkan saat Valentine’s Day.

“Pertanyaannya, apakah budaya valentine sesuai dengan budaya kita?” kata Musni Umar, Sosiolog Universitas Indonesia (UI), seperti dikutip laman Harian Depok.

Menurut Musni, Valentine yang diperingati setiap 14 Februari adalah bentuk kebebasan berbudaya yang diambil dari budaya barat. Sayangnya, masyarakat kurang memahami bahwa akibat dari diterapkannya budaya Valentine ini justru menjadi pemicu kerusakan moral bangsa.

Saking bebasnya budaya ini, banyak remaja yang akhirnya menelan mentah-mentah tanpa ada aturan main. Konyolnya, jika budaya buruk ini dilarang, mereka berlindung di balik nama hak asasi manusia.

“Tak hanya budaya, kita ini bebas dalam bidang politik, bebas dalam bidang ekonomi, dan itu tidak ada aturan main,” tutur Musni.

Musni melanjutkan, masyarakat harus jeli melihat setiap budaya yang masuk – termasuk Valentine – sudahkah sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia berketuhanan yang masaha esa. Penyimpangan dari sisi ketuhanan ini harus segera diatasi dengan upaya mengingatkan hingga membatasi tidak terlibat dalam merayakat hari yang konon untuk “berbagi kasih sayang” itu.

Sumber: sidomi.com

Loading...