no comments

Wawancara Sebagai Metode Pengumpulan Data

Wawancara Sebagai Metode Pengumpulan Data
alabik
Wawancara Atau Interview Sebagai Metode Pengumpulan Data | Istilah wawancara memang sangat familiar. Umunya wawancara sering diidentikan dengan kegiatan wartawan untuk memperoleh informasi dari berbagai narasumber. Wawancara dalam sebuah penelitian juga diperuntukan untuk memperoleh informasi dari para narasumber yang nantinya informasi tersebut akan dijadikan sebagai data penelitian. Untuk memperdalam pengetahuan kita tentang Wawancara Atau Interview Sebagai Metode Pengumpulan Data simak penjelasan berikut.
Menurut Sugiyono (2011:317).
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit. Teknik pengumpulan data dengan wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka maupun dengan menggunakan telepon.

Menurut Esterberg (dalam Sugiyono, 2011:317-321).

Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Macam-Macam Wawancara:
  1. Wawancara Terstruktur. Digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam teknik ini peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannyapun telah dipersiapkan. Dalam wawancara ini setiap responden diberikan pertanyaan yang sama. Alat bantu yang dapat digunakan dalam wawancara antara lain tape recorder, gambar brosur dan sebagainya.
  2. Wawancara Semiterstruktur. Pelaksanaan wawancara ini lebih bebas jika dibandingkan dengan Wawancara terstruktur. Tujuan wawancara jenis ini adalah untuk menentukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang wawancarai di minta pendapat dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara ini pendengar secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh narasumber.
  3. Wawancara Tak Terstruktur. Adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan data. Pedoman yang digunakan dalam wawancara jenis ini hanyalah berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden.
Langkah-Langkah Wawancara
Lincoln And Guba Sebagaimana dikutip dalam Faisal (dalam Sugiyono,2011:322), mengemukakan ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
  1. Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan.
  2. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan.
  3. Mengawali atau membuka alur wawancara.
  4. Menginformasikan iktisar hasil wawancara dan mengakhirinya.
  5. Menulis hasil wawancara kedalam catatan lapangan.
  6. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.
Jenis-Jenis Pertanyaan Dalam Wawancara
Patton sebagaimana dikutip Melleong (dalam Sugiyono,2011:322-324) menggolongkan enam jenis pertanyaan yang paling berkaitan yaitu:
  1. Pertanyaan yang berkaitan degan pengalaman.
  2. Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat.
  3. Pertanyaan yang berkaitan dengan pertanyaan.
  4. Pertanyaan tertang pengetahuan.
  5. Pertanyaan yang berkenaan dengan indera.
  6. Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi.
Alat-Alat Wawancara
Supaya hasil wawancara dapat terkam dengan baik, dan peneliti memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada informan, maka diperlukan alat bantu yaitu buku catatan, tape recorder, dan kamera.
Menurut Kusumah (2011:77-78), wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada subjek yang diteliti.

Keuntungan Metode Wawancara
  1. Memberi umpan balik dilihat dari sudut pandang responden.
  2. Dapat langsung mendiskusikan masalah yang muncul, dan memperoleh informasi segera.
  3. Dapat merupakan catatan mengenai episode atau suasana tertentu secara umum.
  4. Dapat membantu mengidentifikasi masalah pribadi responden.
  5. Mengajak responden untuk memecahkan masalah.
  6. Dipakai sebagai bahan triangulasi.
  7. Peneliti langsung berhubungan dengan siswa.
  8. Dapat secara langsung mencari informasi yang dibutuhkan.
  9. Dapat dilakukan kapan saja.
Kerugian Metode Wawancara
  1. Sering tidak umum dilakukan di sekolah.
  2. Sukar bagi anak kecil untuk mencatat gagasan dan perasaannya.
  3. Responden dapat merasa tidak enak untuk membicarakan perasaannya kepada peneliti.
  4. Dapat sangat subjektif.
  5. Dapat menimbulkan masalah etnis.
  6. Memakan waktu lama.
  7. Sukar dilakukan pada anak kecil.
Sekian artikel dengan judul Wawancara Atau Interview Sebagai Metode Pengumpulan Data semoga dapat bermanfaat. Selanjutnya akan diposting mengenai Pengumpulan Data dengan Observasi.
Sumber rujukan : Kusumah Wijaya dan Dwitagama Dedi. 2011. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks | Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Loading...

Reply